What a small world
Belakangan ini undangan menghadiri acara pernikahan semakin membabi buta. Banyak banget, mungkin udah musimnya buat kawin. Semua orang siap untuk bereproduksi. Maka gue berjumpalitanlah dari satu wedding ke wedding yang lain. Sebagai tamu yang sibuk mencicipi ini-itu, memperhatikan dekorasi ini-itu dan segala tetek bengek yang lain (padahal biasanya menurut gue wedding yang bagus = yang makanannya enak dan ga abis-abis. Just that simple, huehueheu).
Tapi selain acaranya, gue memperhatikan juga beberapa hal. Satu yang paling menarik adalah...
DUNIA itu kecil ya...
Sesempit jejaring pertemanan di Facebook atau Friendster atau Twitter atau apapun lah you name it.
Kenapa gue bilang begitu?
Karena ternyata biasanya di sebuah acara pernikahan, kalian bisa bertemu dengan orang-orang dari masa lalu. DAri temen SD sampai mantan pacar zaman dahulu kala. Persis kaya jejaring pertemanan kan?
Kaya kemarin contohnya. temen gue ada yang nikah, dan disanalah gue.... bertemu berbagai macam orang. Mulai dari yang ngeliat-liatin gue dengan pandangan penasaran dan akhirnya bertanya, "Eh, anak SMA 1 ya?"
Mengangguklah gue. Surprisingly, ternyata gue inget namanya (hmmm, bener ga ya? seenggaknya dia nggak mengoreksi ketika gue menyebutkan namanya--good sign, wasn't it?). Dan kemudian gue ngobrol. Dengan canggung sih, abisan ga terlalu kenal, heheheh :D
Terus, pas lagi nyobain makanan, tiba-tiba gue menemukan sosok yang gue kenal, dan sudah lamaaaa banget ga ketemu. Senior gue di kampus. Ketika di menoleh, reaksi gue dan dia sama-sama:
"EH, ngapain lo disini?"
Sama-sama nggak expect untuk saling bertemu gue rasa. Dan kemudian dia bercerita, kalau ternyata temen gue yang nikah ini (sebutlah namanya Reva), juga temannya dia. Begini percakapannya:
"Kok bisa sih kenal sama si Reva?" tanya gue.
"Lho, R kan temen gue di Makassar..." jawabnya.
Gue baru keinget, si Reva memang ditemptkan di regional treasury Makassar. Membuat gue teringat akan sesuatu, "Oh iya yaaa.. elo kan ditempatin di Makassar yaaa..."
"Lho?" dia heran. "Lo kok tahu?"
"Iya si Loni yang ngasih tau gue..."
"Lawni? Kok lo bisa kenal Lawni sih?"
Fyi, Lawni itu temen gue yang satu kantor dengan dia (nah, mulai ribet kan?).
Yeah, mulai ngelantur deh, intinya gue cuma mau bilang, dunia itu bener-bener sempit ya... Lo nggak akan pernah nyangka akan bertemu dengan siapa yang berhubungan dengan teman atau saudara lo yang mana, dan dia itu teman lo dari zaman kapan tau.
Kadang hubungan silaturahmi itu muncul dari jejaring pertemanan itu. Walaupun gue ga eksis-eksis amat di fesbuk sih... tapi kemarin ada temen SD gue, di ciledug sana dulu yang gue udah ga kontak selama 16 tahun (karena gue pindah ke depok), dan tiba-tiba meng-add gue di fesbuk. Nah, ga kebayang hal kaya gitu bisa terjadi kalau nggak ada yang namanya teknologi.
Yah walaupun kadang-kadang ada plus dan minusnya juga sih. Nggak enaknya adalah, kalau dengan jejaring pertemanan itu lo menjadi punya stalker. Huiks.
anyway, ga semua orang sih punya kecenderungan untuk memiliki stalker. Geer ajah gue, hehehhee :P
Monday, October 26, 2009 | Label: hidup, mumblings, thoughts | 1 Comments
flirt
Gue menemukan ini secara nggak sengaja di imdb.com, pas browsing-browsing Gerard Butler. Ini dikutip dari film Timeline (2003) -- yang mana novelnya baguuuusss banget, tapi ternyata mengecewakan ketika dibuat film. Oke, gue nggak mau ngomongin itu sih sebenernya, yang mau gue post adalah sebuah percakapan yang lucu. Ini gue copy:
Marek : Are you, uh... married?
Lady Claire: No. We've been fighting the English since before I was born. There's no time for marriage.
Marek: Of course. Are you, uh... with... anyone?
Lady Claire: Am I with anyone?
Marek: Yeah.
Lady Claire: I'm with you.
Marek: I know, I know. What I mean is, is there, is there someone, is there someone... that you see?
Lady Claire: Do I see?
Marek: Yeah.
Lady Claire: [Looks around] Uh, nobody... It is possible they are hiding on the shore or... in the woods. They could be anywhere.
hahahaha.. hilarious.
Sunday, October 11, 2009 | Label: misc, mumblings | 0 Comments
my confession
Kira-kira dua minggu lalu gue buka puasa bersama dua sahabat gue dari SMP. Dan mereka berdua mengingatkan kalau gue ternyata....
pernah mem-bully adik kelas.
(duluuuu, waktu kelas 3 SMP--but still, membully adalah tetap membully)
astagfirullah. dosa lama memang cepat dilupakan, hehehe...
saya minta maaf ya buat yang pernah saya bully. Maybe I meant it that time, but now, when I think I'm already a mature woman, here is my deepest regret.
Sekalian lebaranan sama semuanya,
Taqabalallahu minna waminkum, minal aidin wal faidzin.
Maafkan jika banyak kata dan perbuatan saya yang tidak berkenan.
Wednesday, September 23, 2009 | Label: hidup, mumblings, thoughts | 0 Comments
bullying, envy, the clique and my contemplation (part I)
Pernah denger bullying?
Yeah, hari gini, siapa sih yang nggak kenal bullying. Pernah di-bully? Atau jangan-jangan... pernah mem-bully?
huehueheuheu... tenang aja, i'm not here to judge you, guys...
Jadi, otak gue yang lambreta dan karatan ini, kalau lagi nggak dipenuhi hitungan-bagaimana-mendapatkan-profit (ya Tuhan, hidup gue bergelimang dosa karena riba), suka tiba-tiba mikir hal-hal ga penting. Contohnya kaya bully-membully ini.
Dulu, waktu zaman gue SMA, mana gue kenal sama yang judulnya 'bully'. Soalnya dulu, bahasa populernya adalah 'gencet-menggencet'. Tapi artinya mah sama aja. Sarwa keneh. Gue dulu takut banget kalau digencet sama kakak kelas--walaupun pada kenyataannya gue ga pernah digencet sih. I was not that worthy enough to be bullied. Hahaha...
Karena, gue berpikir bahwa, ada beberapa alasan utama bahwa seseorang itu di-bully--terutama cewek ya. Dimana persaingan begitu ketat dan para gadis (dan wanita) berubah menjadi piranha yang kanibal. Here is the list:
- CANTIK--ini adalah alasan paling utama. Ga perlu secantik Natalia Uzveknova (nggak pernah denger? sama, gue juga ngarang), kalau keliatan kinclong dikiiiittt aja, pasti langsung deh tergencet kanan-kiri. Ini adalah salah satu alasan kenapa gue nggak digencet, soalnya gue ga cantik. Hihihihi... blessing in disguise nih.
- CENTIL--sebenernya ini subjektif sih. Kalau senior udah sebel mah, mau sekalem apapun kalian, yaaa... akan tetep dianggap centil. Walapun kalian sudah memplester mulut biar ga ngomong atau mengikat tangan dan kaki supaya ga bergerak. Still... akan dibilang centil. Yah, namanya juga udah sebel. Cuma kadang-kadang emang beneran ada orang yang emang tipikalnya ekstrovert banget, jadi keliatannya centil. Tanpa dia bermaksud menjadi seperti itu. -------- Oh oke, emang sebenernya ADA yang beneran centil.
- AKTIF--semua kegiatan diikutin, semua ekskul dimasukin--terutama ekskul populer. Selalu menjadi yang pertama dalam segala hal. Yah, mana demen senior ngeliat 4L--lu lagi lu lagi. Walaupun ga salah, cuma kalau senior sebel--ya... apes.
- MODIS--ga perlu cantik, kalau keliatan modis dikiiitttt aja, waduh..sasaran empuk bullying ini.
Kalau dipikir-pikir, pada dasarnya adalah ENVY OVER APPEARANCE. No matter what, pasti mayoritas pem-bully-an itu adalah karena fisik. Coba, pernah dengar kasus ada orang di-bully karena dia pintar? Diintimidasi supaya tidak menjadi pintar lagi dan harus melepaskan kepintarannya? Oke, pem-bully-an kepada anak pintar emang ada sih. Kaya mem-bully para kutubuku--kaya di film-film. Cuma itu kan emang karena iseng dan bukan didasari oleh---emmm, rasa iri terselubung?
Susah emang jadi cewek. Persaingan di luar sana begitu luar biasa ketat. Terutama dalam soal penampilan. Just for you know, guys/boys/men, it's a wild jungle out there. Where every biatch can slap each other in order to survive. Who said life would be easy to be through? It's tough you know.
Salah satu bentuk 'bertahan hidup' adalah mem-bully. Hueheheh... coba deh, kalian pasti akan lebih bernafsu mem-bully cewek cantik yang disukai para cowok kan dibanding dengan cewek pintar geeky yang berkacamata tebal?
Karena apa? Karena, deep inside our hearts we feel insecure. Kita nggak pede dengan diri kita sehingga kita ingin membuat orang lain nggak lebih baik dari diri kita sendiri. Kita pasti selalu ingin menjadi yang teratas dalam life-food-chain. It's better to eat than to be eaten. Huehuehueh...
I used to be an ugly duck.
Seriously. Makanya gue nggak pernah di-bully. Kerjaan gue hanya memperhatikan orang-orang mem-bully dan di-bully. And doing nothing, heuheuheu.
The primary reason is mostly about physical appearance.
Naturally, the more you look good, the more you'll get the advantage(s). That's why, kadang menjadi alasan orang untuk mem-bully. Maksudnya, para cowok akan lebih memberikan excuse kan kepada cewek cantik. Perumpamaannya begini:
Situasi pas ospek, lagi lari diburu-buru. Nah trus ada cewek cantik jatuh. Maka senior cowok akan berkata, "Eh kamu, hati-hati ya. Awas, jalanannya agak licin..." (mungkin juga dengan improvisasi tambahan dengan mengatakan, "perlu dipegangin?" Nice try, guys!) Tapi kalau cewek tidak cantik yang jatuh, maka kalian para lelaki biasa saja dan kemungkinan akan berkata, "Eh, kalau lari matanya dipake! Jangan jadi pajangan!!"
Okay, that's the extreme one. Tapi kurang lebih begitulah.
The more you look good, the more you'll get the advantage(s). Nggak usah berdebat deh, sama gue soal yang ini.
Gue menyaksikan dengan mata kepala sendiri, mengalami dengan seluruh panca indera gue, bahwa--KECANTIKAN memang BERPENGARUH dalam menentukan sikap orang kepada kita. Don't ask me about kegantengan ya. Gue bukan cowok. Jadi gue ga ngalamin apakah kegantengan berpengaruh terhadap hidup kalian.
Lalu gue menjadi berpikir (susah nih rentetan pikiran kalau lagi berkejaran): Apakah dengan tidak mem-bully orang itu artinya bahwa gue TIDAK IRI?? Hohoho... I don't think so.
Since i'm only human, gue juga punya perasaan jealous dan iri. Tapi kan yang namanya cantik itu adalah gift. Lo nggak akan pernah bisa memilih untuk terlahir dengan wajah cantik atau nggak. Yang bisa kita lakukan adalah bagaimana membuat diri kita menjadi menarik. Kalau cantik mah kan udah menarik dari sononya, kalau kurang cantik--yaaa... butuh tenaga ekstra lah supaya bisa jadi menarik, hueheuheu. Yang paling penting menurut gue adalah: berpenampilan proper. That's enough.
Jadi, gue berusaha membuat diri gue nyaman terhadap diri dan penampilan gue sendiri. Salah satunya adalah berpenampilan proper. Once you're comfortable with yourself, everything will be smooth.
Gue tuh adalah orang yang masih berprinsip bahwa inner beauty, kepintaran dan attitude adalah faktor-faktor yang membuat seseorang menjadi menarik. Fisik adalah masalah chemistry.
Until reality hit me on my face...
[bersambung yah. udah malem gue mau tidur]
Wednesday, July 29, 2009 | Label: blast from the past, hidup, mumblings, office islands, thoughts | 1 Comments
